Polusi Suara Kelembaban Udara Suhu Dalam Kesehatan

April 5, 2018 | Author: Anonymous | Category: Documents
Report this link


Description

PENGARUH POLUSI SUARA, KELEMBABAN UDARA DAN SUHU PADA KESEHATAN MANUSIA TUGAS MATA KULIAH KESEHATAN KERJA Muhammad Alfis Budi Sanjaya TEG-1 331207.A POLUSI SUARA PENDAHULUAN Sejak berabad-abad yang lalu, manusia telah mengenal suara danmenggunakannya dalam berkomunikasi dengan sesama. Suara erat kaitannya dengansalah satu indra manusia, yaitu indra pendengaran berupa telinga. Keduanyamerupakan karunia yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tanpa keduanya, niscaya proses komunikasi manusia akan terganggu. Diakui, indera pendengaraan kita lebih sering terganggu oleh kondisi yang memang tidak kita inginkan. Misalkan gemuruh lalu lintas, tinggal di pinggir bandar udara, bekerja di pabrik dengan suara mesin yang keras, dan masih banyak lagi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa polusi suara adalah kebisingan yangmenggangu hingga lambat laun akan mempengaruhi emosi dan kejiwaan manusia. Disinyalir polusi suara ini juga bisa menimbulkan penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi). Jika kondisi ini di alami manusia dalam jangka waktu yang panjang, dapat berakibat berkurangnya sensitivitas gendang telinga bahkan dapat menyebabkan tuli. Bukan hanya itu, jika kondisi ini dialami dalam kurun waktu yang panjang, imbasnya akan membuat telinga berkurang kepekaannya. PEMBAHASAN Fungsi dari telinga adalah untuk mendengarkan. Suara yang didengar mungkin saja terasa nyaman atau mungkin tidak nyaman sama sekali; suara bising adalah hal yang tidak seorangpun mengiginkan dan pastinya sangat mengganggu dan seringkali membuat tidak nyaman dalam pendengaran. Kebisingan diukur dalam skala desibel akan tetapi untuk menaksirkan respon dari manusia dalam menerima suara, skala tersebut telah dimodifikasi untuk mengganti kerugian dari efek suara bising. Skala modifikasi ini dikenal sebagai skala A dan ukuran kebisingan pada dBAs, ini akan lebih akurat dimana sebenarnya manusia mendengar perbedaan volume dari suara. Perkiraan suara terhalus yang dapat terdengar manusia, sampai 200 dBA, dengan mendekati skala 180 desibel telah mewakili dari suara roket yang diluncurkan. KEBISINGAN/ POLUSI SUARA DAN KETEGANGAN (STRESS) Suara yang tidak dikehendaki, tidak terkontrol dan tidak dapat diprediksi baik itu suara yang keras ataupun lembut dapat menganggu pendengaran. Gerakan tubuh dalam gangguan suara yang tidak diinginkan atau kebisingan, melalui seperangkat respond psikologi dinamakan stress atau ketegangan. Respond psikologi dapat berbentuk naiknya tekanan darah, keluarnya hormon tertentu secara berlebihan, perubahan irama jantung, & keterlambatan pencernaan. Bila kebisingan berlanjut, maka penyakit permanen terjadi pada sirkulasi, kerusakan yang terjadi pada daerah jantung. Jadi, kebisingan dengan ketegangan dapat mengakibatkan dampak bagi organ tubuh secara langsung. Bertambahnya ketegangan diakibatan oleh kebisingan apanila tidak ada yang dapat dilakukan untuk dapat berkata “berhentilah bising.” Mengharuskan seseorang untuk hidup dengan kebisingan, seperti yang ada pada kutipan berikut “belajar dalam keadaan yang tidak berdaya”. Setiap individu diharapkan untuk “hanya duduklah dan ambilah”. Itu adalah sebuah ketidakberdayaan hanya akan memperburuk respond atau tanggapan dari psikologi yang ada hubungannya dengan stress atau ketegangan. POLUSI SUARA DAN GANGGUAN TIDUR 2 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A Tidur adalah kebutuhan fisik dan psikologi guna mengembalikan kekuatan dan ketidakmampuan.Tidur berfungsi untuk menjaga kesehatan setelah melakukan aktivitas sehari-hari yang cukup melelahkan. Passchier-Vermeer dan Paschier (2000) berpendapat bahwa ganggguan suara atau kebisingan saat malam hari dapat mengubah pola tidur, meningkatkan intensitas bangun, dan efek kecepatan jantung. Kehilangan waktu tidur atau istirahat mengakibatkan kurangnya perhatian seseorang pada sesuatu yang mengakibatkan kurangnya kemampuan menerima isyarat dari bahaya dan lebih cenderung mendapatkan kecelakaan. Masyarakat yang mendapatkan kebisingan dalam lingkungannya ketika mereka tidur maka mereka lebih sering murung. POLUSI SUARA DAN KESEHATAN MENTAL Early berpendapat bahwa pasien yang masuk dalam rumah sakit dengan keluhan mental adalah orang yang tinggal dekat dengan bandara. Penelitian baru-baru menunjukkan bahwa, penduduk yang tinggal di dekat pangkalan udara, yang mendapatkan kebisingan secara intensif, terbukti bahwa mental mereka tidak stabil, depresi dan selalu gelisah. Jhon Dallas menulis bahwa ketika seseorang tidak dapat menemukan kedamaian dan ketentraman disekitar lingkungannya maka mereka akan menemukan kesulitan untuk menemukan ketentraman didalamnya. Dallas percaya bahwa orang diberihak mengembangkan diri mereka sendiri demi kepuasan atau terpenuhinya kebutuhan hidupnya dan untuk memenuhi beberapa arti inti dari kedamaian tersebut. Bronzaft et al mengatakan bahwa kurang dari 20% masyarakat mengeluh tentang adanya kebisingan dan mencoba untuk menghentikan kebisingan dan menguranginya. Meskipun keluhan itu selalu ada namun perlu diingat bahwa tak ada seorangpun yang dapat melakukan sesuatu tanpa suara. “belajar dalam ketidak berdayaan” adalah ungkapan orang yang tidak menerima akan adanya suara gaduh ataupun kebisingan. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK, KESADARAN, DAN PEMBELAJARAN Diawal terciptanya seorang anak, kebisingan memberi efek dalam perkembangan anak di dalam kandungan. Belum diketahui apakah ini disebabkan oleh ketegangan ibu yang didapat dari kebisingan yang dapatmembahayakan anak ataukah obat-obatan yang selalu diminum sang ibu demi memperoleh kenyenyakan dalam tidur waktu malam hari ditengah-tengah kebisingan yang sangat menggaggu. Rumah sakit anak meluangkan waktu untuk tidak memutar musik atau memasang musik dengan irama lembut dan tidak menjadwalkan terapi apapun karena pada masa periode tertentu seorang anak memerlukan suasana sunyi. Akan tetapi, banyak sekali anak yang selalu duduk di depan televisi dengan suara yang keras, orang tua yang selalu berteriak-teriak, dan suara bising dari keramaian yang disebabkan oleh lalu lintas. Apakah ada efek dari kebisingan terhadap perkembangan mental anak? Watch dan Gruen mengatakan bahwa kebisingan yang berasal dari dalam rumah si anak akan menimbulkan gangguan konitif anak dan perkembangan bahasanya. Secara kontras, Bronzaft menginterview sejumlah siswa berprestasi, seluruh mahasiswa dan telah ditemukan bahwa mereka mendapatkan kesunyian dan ketentraman dalam rumah mereka. Mereka mengakui bahwa orang tua mereka menyediakan waktu yang senggang tanpa suara bising yang mengganggu dan tempat untuk mereka dapat membaca, berfikir dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka juga berkata bahwa mereka dapat bersenda gurau dengan orang tua mereka tanpa adanya suara radio atau televisi. Evan dan Lapore menyimpulkan bahwa penduduk yang tinggal dengan suara bising memiliki perkembangan kognitif dan kebisingan yang terjadi dan didapat terus menerus di dalam kelas pembelajaran memiliki potensi membaca yang lebih rendah, terlebih di level sekolah dasar. Mereka 3 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A juga mengatakan bahwa anak-anak yang yang memliki kecerdasan atau bakat yang lebih rendah terlihat lebih rentan terhadap pengaruh bahaya kebisingan. Ada kemungkinan yang kuat bahwa kebisingan yang berlangsung secara terus menerus dapat mengganggu diskriminasi auditori dan mekanisme perhatian, ini menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan dalam belajar membaca. TUGAS PEMERINTAH DAN MASYARAKAT DALAM MENGURANGI KEBISINGAN Passchier-Vermeer dan Passchier menyimpulkan bahwa kebisingan disebabkan karena meningkatnya industri negara dan perkembangan negara. Pada abad ke 21 masalah kesehatan yang disebabkan oleh kebisingan yang berlangsung terus menerus. Pada tahun 2000, pemerintah US dengan national academiy of sciences (NAS) memimpin penelitian tentang efek dari kebisingan terhadap kesehatan dan pembelajaran anak. Untuk mengurangi polusi suara para aktivis melakukan sebuah tindakan, banyak diantara mereka bergabung dalam organisasi anti bising yang menyerukan kepada seluruh pekerja publik untuk tidak melakukan kebisingan, terutama pada bandara yang telah merampas ketenangan masyarakat. Kelompok anti kebisingan telah menetapkan hal itu keseluruh dunia dan tindakan serupapun sedang dilakukan di negaranegara lain. 4 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A KESEHATAN LINGKUNGAN 1. PENGERTIAN LINGKUNGAN Lingkungan adalah segala sesuatu baik secara fisik, biologis, maupun sosial, yang berada disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. (Lennihan dan Fettler, 2001) A. LINGKUNGAN FISIK Lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang bersifat tidak bernyawa, misalnya air, tanah, kelembaban, suhu, angin, rumah dan benda mati lainnya. B. LINGKUNGAN BIOLOGIS Lingkungan biologis adalah segala sesuatu yang bersifat hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, termasuk mikroorganisme. C. LINGKUNGAN SOSIAL Lingkungan sosial adalah segala sesuatu tindakan yang mengatur kehidupan manusia dan usahausahanya untuk mempertahankan kehidupan, serta pendidikan pada tiap individu, rasa tanggung jawab, pengetahuan keluarga, jenis pekerjaan, jumlah penghuni dan keadaan ekonomi. D. LINGKUNGAN RUMAH Lingkungan rumah adalah segala sesuatu yang berada dalam rumah (Walton 1991). Lingkungan rumah terdiri dari lingkungan fisik yaitu ventilasi, suhu, kelembaban, lantai, dinding, serta lingkungan sosial yaitu kepadatan penghuni. Lingkungan rumah menurut WHO adalah struktur fisik dimana orang menggunakannya sebagi tempat berlindung. Lingkungan rumah yang sehat dapat di artikan sebagai lingkungan yang dapat memberikan tempat untuk berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristirahat serta dapat menimbulkan kehidupan sempurna baik fisik, psikologis maupun sosial (Lubis, 1989). Menurut APHA (American Public Healt Assosiation), lingkungan rumah sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1). MEMENUHI KEBUTUHAN BIOLOGIS a) Suhu ruangan, yaitu dalam pembuatan rumah harus diusahakan agar konsentrasinya sedemikian rupa sehingga suhu ruangan tidak berubah banyak dan agar kelembaban udara dapat dijaga jangan sampai terlalu tinggi dan terlalu rendah. Untuk ini harus diusahakan agar perbedaan suhu antara dinding, lantai, atap, dan permukaan jendela tidak terlalu banyak. b) Harus cukup mendapatkan pencahayaan baik siang maupun malam. suatu ruangan harus mendapat penerangan pagi dan siang hari yang cukup yaitu luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai. c) Ruangan harus segar dan tidak berbau, untuk ini diperlukan ventilasi yang cukup proses pergantian udara. 5 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A d) Jumlah kamar tidur dan pengaturannya disesuaikan dengan umur dan jenis kelamin. Ukuran ruang tidur anak yang berusia lima tahun minimal berukuran 4,5 m3, artinya dalam satu ruangan anak yang berumur lima tahun diberi kebebasan menggunakan volume ruangan 4,5 m3 (1,5 x 1 x 3 m3) dan diatas 5 tahun menggunakan ruangan 9m3 (3 x 1 x 3m3). 2). PERLINDUNGAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR. a) Harus ada sumber air yang memenuhi syarat, baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga selain untuk kebutuhan makan dan minum terpenuhi, juga tersedia air untuk memelihara kebersihan rumah, pakai dan penghuninya. b) Harus ada tempat pembuangan sampah dan WC yang memenuhi syarat kesehatan. c) Pembuangan air dan kotoran manusia dan limbah harus memenuhi syarat kesehatan, yaitu harus dapat mencegah agar limbah tidak meresap dan mengkontaminasi permukaan sumber air bersih. d) Tempat masak dan tempat makan hendaknya bebas dari pencemaran gangguan binatang, serangga dan debu. e) Harus ada ruangan udara yang cukup. f) Luas kamar tidur minimal 8,5 m3 per orang dan tinggi langit-langit minimal 2,75 meter. 2. KONDISI FISIK RUMAH YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA ANAK. Penyakit sistem pernafasan ISPA dan pneumonia masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kejadian penyakit ISPA dan pneumonia terutama pada balita. Proporsi kematian yang ada di Indonesia tahun 1998 disebabkan oleh ISPA pneumonia mencakup 20%-30% dari seluruh kematian balita (Depkes RI). Keadaan perumahan merupakan salah satu faktor yang menentukan kondisi hygiene dan sanitasi lingkungan. Menurut UU RI No. 4 tahun 1992, rumah berfungsi sebagai pembinaan keluarga. Rumah yang layak dihuni adalah bangunan yang memenuhi syarat kesehatan penghuninya. (Sanropie, 1989). Kondisi fisik rumah adalah keadaan rumah secara fisik dimana orang menggunakan untuk tempat berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Penyakit atau gangguan saluran pernafasan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang buruk. Lingkungan yang buruk tersebut dapat berupa kondisi fisik perumahan yang tidak mempunyai syarat seperti ventilasi, kepadatan penghuni, suhu, kelembapan. lingkungan perumahan sangat berpengaruh terhadap terjadinya pneumonia (Ranuh, 1997). Kondisi fisik rumah adalah suatu kondisi rumah yang mempunyai struktur fisik dimana orang menggunakannya sebagai tempat belindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia, kondisi fisik rumah tersebut antara lain lantai rumah, dinding, atap rumah, ventilasi, suhu, kelembapan, kepadatan hunian, (Ranuh dan Azwar, 1990). LANTAI Ubin atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. DINDING Tembok adalah baik, namun disamping mahal, tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih bila ventilasi tidak cukup, dinding rumah di daerah tropis, khususnya di daerah pedesaan lebih 6 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A baik dinding papan, sebab meskipun jendela tidak cukup tetapi lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan ventilasi dan dapat menambah penerangan alamiah. ATAP GENTENG adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan, disamping cocok untuk daerah tropis, dapat dijangkau oleh masyarakat namun demikian, banyak masyarakat pedesaan tidak mampu untuk itu, maka atap daun rumbai atau dan kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng atau asbes tidak cocok untuk pedesaan disamping mahal juga menimbulkan panas di dalam rumah. Atap seng tingginya minimal 2,75 meter agar tidak menyebabkan panas di dalam rumah. VENTILASI adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan manusia ( Lubis, 1989). Berdasarkan kejadiannya, maka ventilasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu : 1) VENTILASI ALAM Ventilasi alam berdasarkan pada tiga kekuatan yaitu: daya difusi dari gas-gas, gerakan angin dan gerakan massa di udara karena perubahan temperatur. Ventilasi alam ini mengandalkan pergerakan udara bebas ( angin ), temperatur udara kelembapannya. Selain melalui jendela, pintu lubang angin, maka ventilasi pun dapat diperoleh dari pergerakan udara sebagai hasil sifat poros dinding ruangan, atap dan lantai. 2) VENTILASI BUATAN Pada suatu waktu, diperlukan juga ventilasi buatan dengan menggunakan alat mekanis maupun elektrik. Alat-alat tersebut adalah kipas angin, exhauter dan AC (air conditioner). PERSYARATAN VENTILASI YANG BAIK : A) LUAS LUBANG VENTILASI TETAP minimal 5 % dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidential (dapat dibuka dan di tutup) minimal 5 % dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10 % dari luas lantai. B) UDARA YANG MASUK HARUS BERSIH, tidak di cemari asap dari sampah atau pabrik, knalpot kendaraan, debu, asap dapur maka lubang ventilasi dapur harus > 10 % dari luas lantai dapur. C) ALIRAN UDARA DI USAHAKAN CROSS VANTILATION dengan menempatkan lubang ventilasi berhadapan antara dua dinding. Aliran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang besar, misalnya lemari, dinding, sekat dan lain-lain. Secara umum, penilaian ventilasi rumah dengan cara membandingkan antara luas ventilasi dan luas lantai rumah, dengan 7 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A menggunakan Role meter. Menurut indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah > 10 % luas lantai rumah (Depkes RI, 1989). Rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Menurut Azwar (1990) dan Notoadmojo (2003), salah satu fungsi ventilasi adalah menjaga aliran udara dalam rumah tersebut tetap segar. Luas ventilasi rumah yang < 10 % dari luas lantai (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan berkurangnya konsentrasi oksigen dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri-bakteri pathogen termasuk bakteri Pneumococcus. SUHU Secara umum penilaian rumah dengan menggunakan termometer ruangan. Berdasarkan indikator pengawasan rumah, suhu rumah memenuhi syarat kesehatan adalah antara 20-25 ºC, dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah 25ºC. Suhu dalam ruangan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Menurut Walton (1991), suhu berperan penting untuk metabolisme tubuh, konsumsi dengan oksigen dan tekanan darah. Sedangkan Lennihan dan Filter (1998), mengemukakan bahwa suhu rumah tidak memenuhi syarat kesehatan akan menghilangkan panas tubuh dan tubuh akan berusaha menyeimbangkan dengan suhu lingkungan melalui proses evaporasi. Kehilangan panas tubuh akan menurunkan vitalisasi tubuh dan merupakan predisposisi untuk terkena infeksi terutama infeksi saluran nafas oleh agen yang menular. KELEMBABAN Kelembaban, menurut indikator pengawasan rumah, kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40-60 %, dan kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 40 % atau >60 % (Depkes RI, 1989). Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme antara lain bakteri, spiroket, 8 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A ricketsia, dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk kedalam tubuh melalui udara. Selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan mebran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Bakteri pneumokokus seperti halnya bakteri lain, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban tinggi karena air membentuk >80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang esensial untuk pertumbuhan dan kelansungan hidup sel bakteri (Gould dan Brooker, 2003). Selain itu menurut Notoadmodjo (2003), kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri- bakteri pathogen termasuk bakteri Pneumococus. KEPADATAN PENGHUNI RUMAH Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis, 1989). Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam m2 per orang, luas minimum per orang sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan sederhana, minimum 10 m2/ orang. Untuk kamar tidur diperlukan minimum 3m2/ orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2 orang, kecuali untuk suami istri dan anak dibawah 2 tahun. Cahaya alamiah yakni matahari, cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri pathogen didalam rumah, misalnya kuman pneumonia (Notoatmodjo, 2003). Oleh karena itu, rumah yang cukup sehat seyogyanya harus mempunyai jalan masuk yang cukup (jendela), luasnya sekurang-kurangnya 15%-20%. Perlu diperhatikan agar sinar matahari dapat langsung kedalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni < 10m2 /orang dan kepadatan penghuni tidak memenuhi syarat kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni >10 m2 / orang (lubis, 1989) Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi (Lubis, 1989; Notoatmodjo, 2003). 9 | TEG - 1 MUHAMMAD ALFIS BUDI SANJAYA / 331207.A


Comments

Copyright © 2024 UPDOCS Inc.